Selasa, 12 Maret 2013

Masa perkembangan anak bermain umur 4-5 tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa perkembangan anak usia dini yaitu antara usia antara 4-5 tahun merupakan periode perkembangan yang sangat cepat seiring dengan terjadinya perubahan dalam berbagai bidang aspek perkembangannya. Aspek-aspek perkembangan anak usia dini yang sering menjadi perhatian pendidik adalah berkisar aspek kemampuan dasar yang terdiri dari: aspek fisik, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, moral dan nilai-nilai agama. Bagi anak usia dini gerakan fisik tidak hanya sekedar penting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik saja, melainkan dapat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan rasa harga diri (self esteem) dan perkembangan kognisi. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak serta berlangsung secara bertahap tetapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak. Aspek perkembangan kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Melalui aspek perkembangan bahasa , anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain. Sejak kecil anak telah dituntut untuk belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. Karena dengan berperilaku sosial anak dapat berhubungan dengan orang lain . Perilaku moral dan agama anak tumbuh sebagai tanggapan terhadap cara anak diperlakukan di rumah dan di sekolah , artinya menumbuhkan kemampuan anak untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah adalahdari perlakuan orang yang berada disekitarnya. Seluruh aspek-aspek perkembangan anak usia dini dapat terwujud jika adanya campur tangan dari orang-orang yang berada disekitat, contohnya keluarga . 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam aspek perkembangan fisik pada anak usia 4-5 tahun? b. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam perkembangan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun? c. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam aspek perkembangan kognitif pada anak usia 4-5 tahun? d. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam aspek perkembangan bahasa pada anak usia 4-5 tahun? e. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam aspek perkembangan sosial emosional pada anak usia 4-5 tahun? f. Bagaimana pemanfaatan permainan dalam aspek perkembangan moral dan nilai-nilai agama pada anak usia 4-5 tahun? 1.3 Tujuan Pembahasan a. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek fisik b. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek motorik halus c. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek kognitif d. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek bahasa e. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek sosial emosional f. Untuk mengetahui perkembangan anak usia 4-5 tahun dalam aspek moral dan nilai-nilai agama BAB II PEMBAHASAN 2.1 Aspek Perkembangan Fisik Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan – perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensorik dan keterampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). 4 aspek perkembangan fisik menurut Kuhlen dan Thompson (Hurlock, 1956) antara lain sebagai berikut : 1. Sistem syaraf (perkembangan kecerdasan dan emosi) 2. Otot – otot (kekuatan dan kemampuan gerak motorik) 3. Kelenjar Endokrin (perubahan – perubahan pola tingkah laku baru) 4. Struktur fisik/tubuh (perubahan tinggi, berat, dan proporsi) Perubahan fisik (otak) juga merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena otak adalah sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan sehingga semakin sempurna struktur otak maka akan meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001). Berkenaan dengan pertumbuhan fisik, anak usia dini masih perlu aktif melakukan berbagai aktivitas. Kebutuhan anak untuk melakukan berbagai aktifitas ini sangat diperlukan untuk pengembangan otot-otot besar maupun otot-otot kecil (halus). Sebagaimana dijelaskan oleh Burnner, 1990 (Solehuddin,2000:52) bahwa : “Anak perlu belajar menggunakan tubuhnya. Aktivitas mengontrol tubuh mempengaruhi kuat bidang-bidang belajar lainnya. Anak yang mempraktekkan gerakan-gerakan akan cendrung memperoleh kepercayaan diri dan kemandirian”. Menurut Santrock : 1995 , contoh perkembangan anak pada usia 4-5 tahun dalam bidang aspek perkembangan fisik adalah : Usia 4 tahun : 1. Berjingkrak-jingkrak 2. Melompat 3. Berlari kesana-kemari Usia 5 tahun : 1. Memanjat suatu objek 2. Berlari dengan kencang 3. Berlomba dengan teman sebayanya 2.2 Perkembangan Motorik Halus Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus. Anak sudah dapat menggunakan kemampuannya untuk mengurus dirinya dengan sedikit pengawasan orang dewasa. Anak sudah dapat menyikat gigi, menyisir, mengancingkan pakaian, membuka dan menutup resleting, memakai sepatunya sendiri, serta makan menggunakan sendok dan garpu. Perkembangan gerakan motorik halus : Menurut Silawati (2008), tahap perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun yaitu: Anak usia 4 tahun mempunyai kemampuan pada aspek motorik halus yang terdiri dari: 1. Membangun menara setinggi 11 kotak 2. Menggambar sesuatu yang berarti bagi ank tersebut dan dapat dikenali oleh orang lain 3. Mempergunakan gerakan-gerakan jemari selama permainan jari 4. Menjiplak gambar kotak 5. Menulis beberapa huruf. Anak usia 5 tahun mempunyai kemampuan pada aspek motorik halus yang terdiri dari: 1. Menulis nama depan; membangun menara setinggi 12 kotak; mewarnai dengan garis-garis. 2. Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan dua jari. 3. Menggambar orang beserta rambut hidung. 4. Menjiplak persegi panjang dan segitiga. 5. Memotong bentuk-bentuk sederhana. Suherman (2000), menyebutkan bahwa ketrampilan yang harus dicapai anak usia 4-5 tahun pada aspek motorik kasar adalah berdiri dengan satu kaki, sedangkan ketrampilan yang harus dicapai anak usia 4-5 tahun pada aspek motorik halus adalah dapat mengancingkan baju. Ketrampilan anak pada aspek motorik perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik (Silawati, 2008). Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak serta berlangsung secara bertahap tetapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak (Silawati, 2008). 2.3 Aspek Perkembangan Kognitif Menurut Piaget , pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol, namun belum dapat menggunakan logika. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir mengenai sebuah benda, orang atau kejadian walaupun tidak sedang berada atau terjadi di depan mereka. Berpikir dengan simbol berarti anak sudah dapat menggambarkan berbagai hal dalam pikiriannya tanpa kehadiran benda tersebut. Misalnya, seorang anak menginginkan es krim. Tanpa harus melihat es krim, ia sudah dapat menggambarkan bentuk es krim sampai pada rasanya. Di dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebihkompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anakperlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak Umur 4-5 Tahun 1. Dapat memperoleh informasi tentang sesuatu yang nyata melalui buku 2. Dapat mencoba untuk menceritakan kembali suatu cerita berdasarkan ingatannya 3. Dapat menunjukkan bentuk lingkaran,bujur sangkar,segitiga,persegi panjang. 2.4 Aspek Perkembangan Bahasa Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda. Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara),morfologi(unit arti) sinfaksis (tata bahasa). Dengan bahasa anak dapat mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaan pada orang lain. Pada usia 4-5 tahun, anak akan dapat menggunakan 4 atu 5 kata dalam kalimatnya. Menurut Owens (dalam papalia et al, 1990), mengemukakan bahwa anak usia dini dapat menggunakan past mapping yaitu suatu proses dimana anak dapat menyerap arti kata baru setelah mendengarkan sekali atau dua kali di dalam percakapan/suatu kalimat yang berbentuk kalimat pertanyaan, negative dan perintah. Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti. Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi anak. Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa. Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak Umur 4-5 Tahun 1. Dapat menggunakan kata sambung “tapi” 2. Dapat mendefinisikan kata-kata yang sederhana 3. Dapat menceritakan perbedaan suatu benda 4. Dapat menyebutkan kota asalnya 2.5 Aspek Perkembangan Sosial Emosional Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan. Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diriseseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarga turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya. Ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi, yaitu : 1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang. 2. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul 3. Adanya bimbingan dan pengajaran dari biasanya menjadi “model” bagi anak.. 4. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Umur 4-5 Tahun 1. Dapat bermain sedikitnya satu permainan di atas meja dengan pengawasan orang dewasa 2. Dapat menunggu giliran dalam bermain tanpa pengawasan 3. Dapat mempertunjukkan suruhan sederhan 4. Tidak mengganggu teman dengan sengaja 5. Dapat memilih kegiatan sendiri 2.6 Aspek Perkembangan Moral dan NilaI-nilai Agama Pengertian perilaku moral secara umum adalah perilaku yang sesuai dengan standar moral dari kelompok sosial tertentu. Perilaku moral ini dikendalikan oleh konsep moral. Konsep moral terbentuk dari peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Jika ada perilaku moral maka diidentifikasikan perilaku tak bermoral dan amoral. Perilaku tak bermoral merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial atau konsep moral yang diakui masyarakat. Sedangkan perilaku amoral/non moral merupakan perilaku yang ditampilkan karena ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial dan bisa saja terjadi karena orang tersebut belum memahami peraturan atau ketentuan moral yang ada dalam lingkungan tersebut (dilakukan tidak sengaja dilakukan). Perilaku moral negatif anak termasuk dalam kelompok perilaku amoral karena anak belajar untuk memahami peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Contoh, ketika anak bertamu kerumah orang, anak langsung duduk di atas meja, selayaknya di rumah sendiri. Anak berlaku seperti itu karena anak belum memahami dan belum tahu peraturan/tata krama bertamu kerumah orang. Setelah orang tua memberi tahu bahwa apa yang dilakukan anak tidak benar maka anak seharusnya tidak boleh melakukan hal yang sama sewaktu bertamu. Namun jika perilaku negatif tersebut tetap diulangi maka tindakan anak tidak dapat dikatakan sebagai perilaku amoral lagi tetapi perilaku tidak bermoral. Perkembangan moral pada anak-anak Usia 3 sampai 6 tahun Dasar-dasar moralitas dalam kelompok sosial harus sudah terbentuk pada usia 3 sampai 6 tahun. Anak tidak lagi terus menerus diterangkan mengapa perbuatan ini salah atau benar namun ditunjukkan bagaimana harus bertingkah laku dan jika tidak dilakukan maka anak akan memperoleh hukuman. Anak melakukan perbuatan baik tanpa tahu mengapa ia harus berbuat demikian. Anak melakukan perbuatan tersebut untuk menghindar hukuman yang mungkin dialami dari lingkungan sosial dan untuk mendapatkan pujian. Anak mampu memperhatikan perilaku keagamaan yang diterima melalui inderanya, anak mulai meniru perilaku keagamaan secara sederhana dan mulai mengekspresikan rasa sayang dan cinta kasih, anak mampu meniru secara terbatas perilaku keagamaan yang dilihat dan didengarnya. Mulai meniru perilaku baik atu sopan, anak mampu meniru dan mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu keagamaan dan gerakan beribadh secara sederhana, mulai berperilaku baik atau sopan bila diingatkan, anak mampu mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu keagamaan, meniru gerakan beribadah, mengikuti aturan serta mampu melakukan perilaku keagamaan secara berurutan dan mulai belajar membedakan perilaku baik dan buruk. BAB III PENUTUP Kesimpulan Setiap anak mengalami berbagai pertumbuhan terkhusus untuk umur 4-5 tahun yang mengalami pertumbuahan secara fisik,motorik,kognitif,bahasa,sosial emosional serta moral dan nilai agama. Pertumbuhan fisik mencakup pertumbuhan anak pada tubuh misalnya bertambah tinggi dan besar. Pertumbuhan motorik mencakup pertumbuhan anak pada gerakan tubuh yang dipusatkan melalui otak kecil misalnya kemampuan untuk menulis. Pertumbuhan kognitif mencakup pertumbuhan dengan menggunakan simbol dan logika. Pertumbuhan bahasa mencakup pertumbuhan dengan berkomunikasi sederhana. Pertumbuhan sosial emosional mencakup dalam bekerja sama dengan sesama umurnya maupun yang lebih tua. Pertumbuhan moral dan nilai agama mencakup dalam urusan ibadah misalnya mengucapkan salam saat memasuki rumah. Saran Untuk mengembangkan aspek perkembangan fisik, motorik halus, kognitif, bahasa, sosial emosional, moral dan nilai-nilai agama anak usia dini perlu peran dari orang tua untuk mengembangkannya. Daftar Pustaka Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat PAUD Arya, P.K. 2008. Rahasia Mengasah Talenta Anak. Jogjakarta: Think Setiowati, Nisrina.2009. Aspek-aspek Perkembangan Anak. Jakarta : Ganesha Sobur, Alex. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia. Wuryandani,Wuri. 2012. Penanaman Nilai Moral Untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta : UGM http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2310973-aspek-perkembangan-emosi-anak-usia/#ixzz2LS5CfxXw (Diakses tanggal 28 Februari 2013) infopendidikankita.blogspot.com

2 komentar: